ILMU TEKNIK LINGKUNGAN: APA, BAGAIMANA, DAN UNTUK APA?

Drs. P. Nasoetion, M.Si.*

1. Pendahuluan

Bersamaan dengan berdirinya Universitas Malahayati pada tahun 1993/1994, salah satu jurusan unggulan yang dibuka yang bernaung di bawah Fakultas Teknik adalah Jurusan Teknik Lingkungan.

Pada saat itu dapat dikatakan jurusan Teknik Lingkungan merupakan satu-satunya jurusan Teknik Lingkungan yang terdapat di Provinsi Lampung, Sumbagsel, bahkan di Pulau Sumatera. Untuk lingkup pulau Jawa jurusan teknik lingkungan yang ada baru ditemukan di beberapa PTN seperti ITB, UI, sedangkan untuk lingkup PTS jurusan teknik lingkungan hanya ditemukan di STTL Yogyakarta, Universitas Trisakti dan Universitas Sahid di Jakarta. Jadi bisa dihitung dengan jari. Kiranya ide/gagasan dan moment pembukaan jurusan lingkungan tersebut adalah sangat tepat mengingat berbagai alasan yang melatarbelakanginya.

Adapun hal-hal yang melatarbelakangi antara lain, Pertama adalah masih sangat minimnya tenaga sarjana teknik lingkungan yang ada di Indonesia yang dihasilkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia baik PTN maupun PTS, padahal tenaga ahli dibidang tersebut merupakan suatu kebutuhan yang mutlak dan urgen diperlukan terlebih pada saat Indonesia memasuki era industrialisasi sekitar tahun 1980-an sampai pada era Globalisasi seperti sekarang ini, tidak terkecuali di Provinsi Lampung.

Kedua adalah untuk mengantisipasi semakin kompleksnya permasalahan lingkungan yang timbul dari waktu ke waktu yang dihadapi umat manusia baik secara kuantitatif maupun kualitatif, khususnya permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan masalah pencemaran industri, baik pencemaran terhadap air maupun udara.

Ketiga yaitu untuk mencoba membantu memecahkan masalah atau persoalan yang dihadapi manusia sehubungan dengan masalah lingkungan yang timbul dengan menggunakan pendekatan ilmu dan teknologi lingkungan, baik secara preventif maupun rehabilitatif/kuratif.

Keempat yaitu untuk membantu Pemerintah Daerah dalam hal ini Badan-Badan atau Dinas terkait di  Provinsi Lampung dalam menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang cakap, handal, tangguh serta profesional di bidang lingkungan.

Bila ditengok kebelakang pencemaran oleh industri sudah mulai ada sejak dimulainya revolusi industri di Inggris pada tahun 1763. Sejak saat itu berbagai permasalahan lingkungan sehubungan dengan pencemaran udara dan air dalam kaitannya dengan menjamurnya industri di berbagai belahan dunia dengan berbagai dampak kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkannya telah menjadi suatu problema besar yang semakin berkembang menjadi isu global, seperti masalah pemanasan global (global warming) dengan efek rumah kacanya (green house effect),  hujan asam (acid rain), penyusutan lapisan ozon (ozone depletion).

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana  Amerika pernah mengalami suatu musim semi yang sepi (Silent Spring) tanpa kicauan burung-burung, tanpa kehadiran kupu-kupu yang indah, dan berbagai satwa lainnya, karena ternyata mereka semua telah mati terbunuh oleh Pestisida yang saat itu mulai banyak diproduksi dan digunakan oleh petani di Amerika sebagai salah satu keluaran (output) industri.

Belum lagi tragedi Minamata Tahun 1952 di teluk Minamata Jepang yaitu peristiwa tercemarnya air laut oleh logam berat Mercury akibat pencemaran oleh industri yang membuang berton-ton air raksa ke sungai  dan laut yang kemudian masuk ke tubuh manusia melalui ikan yang dikonsumsi lewat proses makan memakan (rantai makanan) yang mengakibatkan timbulnya penyakit aneh pada manusia (Itai-itai) atau  Kucing Menari.

Demikian juga kabut asap yang menyelimuti udara kota Los Angeles (Industrial SmogGray Air City) yang dihasilkan dari industri-industri yang menyebabkan langit udara kota-kota tersebut berwarna kelabu kemerahan (kabut berjelaga),  timbulnya berbagai penyakit akibat pencemaran industri, meningkatnya kecelakaan di lingkungan kerja, dan lain-lain.

2. Lahirnya Ilmu Teknik Lingkungan

Pada saat timbulnya berbagai permasalahan lingkungan khususnya pencemaran oleh industri sebagaimana dikemukakan di atas, ilmu teknik lingkungan barangkali belumlah dikenal sebagai salah satu disiplin ilmu dan belum berkembang. Orang dapat saja mendirikan suatu industri tanpa mengetahui tentang ilmu teknik industri, apalagi merencanakan, merancang/mendisain suatu teknologi pengelolaan limbah untuk industri belumlah terpikirkan.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan pada saat dimulainya revolusi industri pencemaran air dan udara merajalela di berbagai belahan dunia. Lama kelamaan belajar dari  pengalaman dan permasalahan yang dihadapi manusia sehari-hari dalam interaksi dengan lingkungannya, semakin lama semakin disadari bahwa untuk mengantisipasi masalah lingkungan tersebut perlu suatu upaya perencanaan, pengelolaan, pengendalian maupun pencegahan dengan menggunakan suatu ilmu dan teknologi. Kemudian lahirlah ilmu “Teknik Lingkungan”.

Ilmu Teknik Lingkungan pada dasarnya adalah perpaduan (integrasi) dari 3 bidang ilmu yaitu Tata Ruang (dari Planologi), Kesehatan Lingkungan (dari Kesehatan Masyarakat), dan Teknik Penyehatan (dari Teknik Sipil). Oleh karena telah diakui sebagai  suatu disiplin ilmu, tentunya Ilmu Teknik lingkungan telah memenuhi kriteria atau ciri keilmuan seperti adanya obyek yang dikaji, memiliki metode yang jelas (metode ilmiah), tersusun dalam suatu sistem yang teratur dan terkontrol, dan bersifat universal.

Untuk itu, salah satu tujuan pendidikan yang ingin dicapai di Jurusan Teknik Lingkungan adalah   menghasilkan sarjana teknik lingkungan yang mampu memecahkan masalah lingkungan yang dihadapi manusia dengan menggunakan prinsip-prinsip  metode ilmiah (Scientific Methode) yang dimulai dari pengamatan (observasi),  terhadap lingkungan sekitar, merumuskan masalah, menyusun suatu hipotesis,  melakukan serangkaian pengukuran, eksperimen dan pengujian-pengujian atas data-data yang diperoleh (analisis), lalu kemudian menarik suatu kesimpulan. Untuk itu seorang sarjana teknik lingkungan haruslah mampu berpikir logis, analitik . dan sistematik.

Di samping itu, seorang sarjana teknik lingkungan harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang ilmu-ilmu dasar seperti matematika, kimia, fisika, biologi,  kemudian pengetahuan tentang ekologi sebagai dasar untuk memahami lingkungan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan tentang dasar-dasar keteknikan seperti menggambar rekayasa, menggambar teknik, dasar-dasar perencanaan dan juga manajemen.

Oleh sebab itu,  visi dan misi  jurusan teknik lingkungan adalah menghasilkan seorang sarjana teknik lingkungan yang  memiliki kemampuan yang tinggi dalam mendisain/merancang, merencanakan suatu teknologi pengelolaan limbah industri, limbah rumah tangga pemukiman, merencanakan bangunan pengolahan air buangan, bangunan pengolahan air minum, teknologi pengolahan air minum, merekayasa lingkungan permukiman dan perkotaan,  menganalisis dampak lingkungan dari suatu rencana kegiatan/proyek, melakukan pengelolaan limbah padat, cair, gas, dan kebisingan, melakukan pemantauan dan evaluasi lingkungan, dan lain-lain.

Oleh karena itu ilmu teknik lingkungan dapat dikatakan merupakan ilmu terapan (Applied Science) yaitu bagaimana manusia menerapkan prinsip-prinsip ekologi/ilmu lingkungan dalam mengatasi persoalan lingkungan yang dihadapinya.

Harus disadari bahwa masalah lingkungan dapat terjadi sebagai akibat pemanfaatan ruang (Tata Ruang) yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah digariskan sesuai dengan Undang-Undang Penataan Ruang suatu wilayah atau negara. Pendirian suatu industri dikawasan pemukiman adalah suatu contoh pemanfaatan ruang yang akan menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti pencemaran maupun dampak sosial. Oleh karena itu adanya perencanaan tata ruang yang baik dalam suatu wilayah akan dapat mengendalikan laju pembangunan yang tidak terarah yang selanjutnya dapat  mencegah dan mengendalikan kerusakan lingkungan.

Di samping itu, tata ruang juga berfungsi mencegah timbulnya konflik pemanfaatan ruang yang sangat berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan.  Oleh karena itu, seorang sarjana teknik lingkungan haruslah dibekali dengan ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota (Tata Ruang).

3. Peranan  Ilmu Teknik Lingkungan dalam Pembangunan

Masalah lingkungan juga dapat timbul sebagai akibat kondisi lingkungan yang buruk  yang berdampak terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, dengan ilmu teknik lingkungan, lingkungan dapat direkayasa oleh manusia untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit akibat lingkungan. Pembuatan septiktank di setiap rumah tangga merupakan salah satu penerapan teknologi sederhana pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan oleh limbah rumah tangga. Demikian pula  perencanaan sistem drainase (SPAL) yang baik dalam suatu perkotaan dapat menghindari timbulnya masalah banjir dan penularan berbagai penyakit menular.

Perencanaan dan perancangan sumur yang baik juga dapat menghindari manusia dari penyakit bawaan air (water borne desease) seperti diare, kolera, disentri,  dimana kesemuanya itu membutuhkan ilmu dan teknologi yang harus dikuasai oleh seorang sarjana teknik lingkungan.  Oleh karena itu, dari kacamata seorang sarjana teknik lingkungan berbagai persoalan lingkungan yang timbul tersebut harus didekati dengan ilmu dan teknologi lingkungan.

Di dunia industri sarjana teknik lingkungan diharapkan dapat berperan sebagai tenaga yang handal dalam merencanakan dan merancang suatu alat teknologi pengelolaan limbah untuk menciptakan industri yang berwawasan lingkungan. Di sini peran sarjana teknik lingkungan diperlukan terutama dalam mendisain, menentukan ukuran bangunan, pemilihan teknologi rancang bangun, jenis pengolahan yang akan digunakan apakah secara fisika, kimia maupun biologis,  dengan terlebih dahulu diperoleh informasi tentang yang menyangkut jenis bahan baku, proses produksi, kapasitas produksi, debit limbah, karakteristik limbah, luas lahan yang ada, volume limbah, dan lain-lain. Sebab bagi  suatu industri di era globalisasi dan pasar bebas sekarang ini bila ingin tetap survive tidak ada pilihan selain harus tunduk pada peraturan dan undang-undang untuk tidak mencemari lingkungan. Oleh karena itu pengolahan air limbah sebelum dibuang ke lingkungan sampai memenuhi baku mutu (effluent standard) yang ditetapkan dengan  menyediakan  suatu instalasi pengolahan air limbah (IPAL) bagi setiap industri menjadi suatu keharusan.

Terlebih saat ini dunia memberlakukan suatu sistem sertifikasi penjaminan mutu suatu produk industri atau Sistem Manajemen Mutu (ISO 9000) maupun Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14000), dimana bila  suatu produk/barang dagangan kualitasnya tidak memenuhi  standar dunia tidak akan laku di pasar dunia atau diboikot.

Demikian pula bila barang dagangan tersebut ternyata dihasilkan dari suatu proses produksi yang ternyata mencemari lingkungan, barang dagangan tersebut akan ditolak di pasar dunia (Ecolabeling).  Hal ini masih ditambah dengan lahirnya gerakan konsumen sedunia, yaitu timbulnya kesadaran masyarakat konsumen dunia (Green Consumer) yang hanya mau membeli suatu produk industri yang dihasilkan dari  suatu proses produksi yang ramah lingkungan (Environmental Friendly).

Walaupun dalam upaya pemerolehan sertifikasi ini bukan suatu pemaksaan dari pemerintah, namun secara lambat laun dunia industri semakin menyadari bahwa pemerolehan ISO tersebut adalah penting bagi kelangsungan industrinya. Walaupun pada awalnya pengolahan limbah dengan membangun IPAL dianggap sebagai sesuatu pemborosan, namun pada akhirnya disadari bahwa hal itu adalah sesuatu yang menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun lingkungan (eko-efisiensi).

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas pihak industri mau tidak mau harus menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan  termasuk SDM profesional.  Hal ini harus ditangkap sebagai tantangan dan peluang bagi seorang sarjana teknik lingkungan untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

4. Penutup

Sebagai salah satu jurusan di Fakultas Teknik Universitas Malahayati, jurusan teknik lingkungan secara berkala meninjau ulang kurikulum yang digunakan sejalan dengan perkembangan dan dinamika masyarakat dan tuntutan dunia kerja dan stakeholder. Ditunjang oleh staf pengajar profesional dan berkompeten dibidangnya menyebabkan Teknik Lingkungan menjadi salah satu jurusan yang prospektif. Dalam sejarah perjalanannya sampai dengan saat ini tahun 2003 Jurusan Teknik Lingkungan telah meluluskan kurang lebih 80 sarjana teknik lingkungan (ST), dimana mereka sebagian besar terserap di berbagai lapangan kerja, seperti Pemda, Bappeda, Bapedalda, PDAM, Industri, Dinas Kesehatan, Konsultan Amdal, dan lain-lain. Mengingat jurusan teknik lingkungan ini hanya satu-satunya di Provinsi Lampung dan Sumbagsel menyebabkan tingkat persaingan alumni dalam memperoleh berbagai lapangan kerja menjadi sangat kecil.

Ke depan kebutuhan akan tenaga teknik lingkungan diperkirakan akan semakin meningkat sejalan dengan semakin tumbuhnya kesadaran dan kepedulian masyarakat dan pemerintah akan lingkungan yang baik dan sehat. Salah satu bentuk atau wujud kepedulian tersebut adalah dibentuknya suatu Departemen dengan seorang Menteri yang mengurus masalah lingkungan yaitu Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL).

Demikian juga dibentuknya badan-badan pengendalian dampak lingkungan di daerah-daerah tingkat II Kabupaten (BAPEDALDA KABUPATEN) menunjukkan komitmen dan kesungguhan pemerintah dalam mengatasi masalah lingkungan tersebut. Kiranya peluang ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya baik oleh calon-calon mahasiswa teknik lingkungan, mahasiswa maupun sarjana teknik lingkungan.

Dalam memasuki usia Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik  Universitas Malahayati yang ke 9 saat berlangsungnya wisuda Universitas Malahayati yang ke-III tahun 2003 ini diharapkan Jurusan teknik lingkungan semakin dewasa dan lebih dapat berkiprah dan bergelut terlebih dalam era otonomi daerah dimana kewenangan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan menjadi semakin besar, sehingga bila tenaga-tenaga pengelolanya tidak cukup profesional, cakap, dan tidak punya komitmen, dikhawatirkan potensi kerusakan lingkungan menjadi semakin besar pula. Untuk itu,  masih sangat banyak diperlukan tenaga-tenaga sarjana teknik lingkungan atau manusia-manusia yang peduli terhadap lingkungan.

Hal ini hanya dapat tercapai bila semua unsur atau komponen dalam sistem pendidikan tersebut seperti dosen, mahasiswa, kurikulum,  administrasi, alumni, sarana dan prasarana saling bersinergi untuk menciptakan Jurusan Teknik Lingkungan yang berkualitas, unggul, dan menjadi pilihan utama calon mahasiswa di masa depan. Semoga!!!


* Staf Pengajar Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Malahayati Bandarlampung

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: