BANDARLAMPUNG GAGAL PEROLEH ADIPURA

Oleh: P. Nasoetion

Lembaga Kajian Lingkungan & Kesehatan (LKLK)

Universitas Malahayati, Tim Pemantau dan Penilai Adipura

Provinsi Lampung

Penilaian tahap pertama terhadap kota-kota peserta program Adipura di seluruh Indonesia pada umumnya, dan Provinsi Lampung khususnya telah selesai dilaksanakan sekitar bulan oktober 2005 yang lalu. Seperti sudah kita ketahui bersama hasilnya pun sudah diumumkan kepada publik secara langsung oleh Deputi Menteri Lingkungan Hidup (MEN-LH) Bidang Pencemaran Lingkungan dan dihadiri oleh Bapak Wakil Presiden RI serta beberapa menteri pada malam anugerah lingkungan hidup pada hari Jum’at tanggal 16 Desember 2005. Untuk kota Bandarlampung sendiri hasilnya sungguh diluar dugaan semua pihak baik Pemkot sendiri sebagai pengelola dan penanggung jawab  kota maupun seluruh warga kota.

Predikat kota terkotor sebagaimana yang diberikan tidak serta merta harus disikapi secara negatif dan membuat kita “kebakaran jenggot” atau saling menyalahkan satu sama lain serta mencari kambing hitam siapa yang yang bersalah dan siapa yang harus bertanggung jawab. Sudah selayaknya kita introspeksi dan menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran berharga dan sebagai cambuk untuk berusaha lebih baik di kemudian hari.

Bila kita tengok sejarah perjalanan Adipura di kota Bandarlampung sambil  sejenak merenung ke masa silam tentang hal-hal apa saja yang telah kita perbuat sehubungan dengan pembangunan lingkungan kota, secara perlahan-lahan akan kita temukan jawaban apa yang tepat sehubungan dengan pertanyaan sebagaimana yang dilontarkan di judul tulisan di atas. Seperti diketahui kota ini terakhir sekali menerima penghargaan bergengsi tersebut sekitar tahun 1995. Dalam masa 10 tahun tersebut hingga kini boleh dikatakan perhatian kita terhadap lingkungan khususnya kualitas lingkungan kota sangat kurang sekali — kalau boleh dikatakan tidak tersentuh sama sekali — atau barangkali kita sudah cukup puas dengan kondisi dan hasil yang diperoleh saat itu yang menyebabkan kita lengah, sehingga tidak ada satu prestasi pun terutama di bidang lingkungan yang bisa kita raih dan banggakan sebagai warga kota, tidak terkecuali Adipura.

Kebijakan dan program Pemkot saat itu tampaknya lebih terfokus dan diarahkan pada hal-hal seperti pembangunan sarana prasarana fisik dan fasilitas kota seperti mall, ruko, penciptaan lapangan kerja dan peluang kerja/berusaha yang seluas-luasnya bagi warga, sebagai salah satu upaya mengantisipasi tingginya angka pengangguran serta banyaknya warga yang terpuruk akibat krismon yang berkepanjangan. Oleh karena itu, tidak mengherankan banyak bermunculan pedagang kaki lima (PKL) yang menghiasi hampir disetiap sudut jalanan kota, baik jalan protokol, kolektor, tidak terkecuali di pasar-pasar.

Ironisnya, kebijakan yang dilandasi oleh niat dan tujuan yang mulia dalam mensejahterakan rakyat, karena tidak disertai dengan perangkat peraturan hukum dan pengawasan/kontrol yang ketat di lapangan, pada akhirnya menjadi boomerang bagi Pemkot dan warga kota sendiri dengan ambruknya kualitas lingkungan perkotaan, yang ditandai dengan sampah yang merajalela di mana-mana, baik di pasar, jalanan, drainase, pemukiman, tidak terkelolanya dan terpeliharanya sarana kota termasuk sarana kebersihan kota, sarana sanitasi lingkungan kota, dll. Permasalahan yang timbul semakin kompleks karena rendahnya sikap mental, kesadaran dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga tidak mendukung ke arah perbaikan kondisi dan situasi yang muncul.

.

Jadi, bila kondisi yang ada diibaratkan tubuh manusia, selama kurun waktu tersebut, Kota Bandarlampung boleh dikatakan sedang sakit keras (akut). Orang yang sakit keras  tentu saja untuk sembuh/sehat kembali diperlukan waktu yang cukup lama untuk penyembuhannya. Dia harus diobati, dirawat secara intensif,  direhabilitasi, dan bila perlu dioperasi. Itupun tidak ada yang bisa menjamin apakah si sakit itu akan sembuh atau sebaliknya akan bertambah parah atau bahkan mati.

Demikianlah perumpamaan yang tepat untuk kondisi kota Bandarlampung saat ini dalam kaitannya dengan kondisi kualitas lingkungan kotanya, maupun dalam upaya dan tekad kita bersama meraih kembali predikat kota terbersih sebagaimana pernah kita sandang dulu. Jadi, diperlukan waktu yang cukup lama untuk pengelolaannya, baik penataan,  pembenahan, pemeliharaan, peningkatan, perawatan, pelestarian maupun pengawasan  yang intensif dan berkelanjutan. Jadi kota yang sudah sakit 10 tahun tidak lantas secara otomatis atau instant bisa disulap dalam 1 bulan atau 1 malam misalnya untuk bisa kembali pulih seperti keadaan semula.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah hal-hal apakah sebetulnya yang ingin kita capai dengan program Adipura tersebut? Makna dan pembelajaran apa yang terkandung dibalik program Adipura tersebut? Bila tujuan kita hanya sekedar ingin memperoleh penghargaan/trophy Adipura atau hanya ingin membuat kota menjadi bersih secara fisik, hal ini barangkali bukanlah suatu hal yang sulit dilakukan, ringkasnya dalam hitungan hari atau satu malam barangkali kota ini bisa kita sulap menjadi bersih. Tapi apakah hal seperti itu yang kita inginkan, serta apakah kita bisa menjamin kebersihan kota tersebut dapat dipertahankan untuk seterusnya.

Di sinilah sebetulnya letak persoalan utama yang perlu dipahami dan dipikirkan bersama serta sekaligus kita mencermati dan menggali hal-hal apa sebetulnya makna dan tujuan yang terkandung dibalik program Adipura itu sendiri, sekaligus mengoreksi di manakah letak kekurangan ataupun kelemahan kita, sebab selama ini kita sering salah mempersepsi dan keliru memaknai setiap program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, tidak terkecuali program Adipura, dan tampaknya sudah menjadi kelaziman bagi kita bahwa dalam memandang sesuatu kita hanya silau dan terpesona dengan kulit luar atau tampilan fisik tanpa melihat isi yang sebenarnya terkandung di dalamnya. Dengan kata lain kita hanya terpaku dengan masalah fisik yang kasat mata tanpa menyentuh aspek manusianya dengan segala pengetahuan, sikap dan perilakunya yang pada dasarnya merupakan penyebab utama sekaligus kunci utama dalam memecahkan masalah yang timbul.

Oleh karena itu, dalam konteks Program Adipura ini yang paling  sulit dan terpenting barangkali adalah bagaimana merubah sikap dan perilaku serta membangkitkan kesadaran masyarakat yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun dari yang tidak peduli lingkungan menjadi sadar lingkungan. Contohnya adalah perilaku buang sampah sembarangan.  Perilaku ini merupakan contoh kecil yang tampaknya sederhana dan telah menjadi kebiasaan sehari-hari di masyarakat, namun dampak yang ditimbulkannya sangat luar biasa bagi lingkungan termasuk kesehatan masyarakat. Hal Inilah sebetulnya yang menjadi tugas dan tantangan terberat khususnya bagi Pemkot maupun kita semua dalam upaya kita membangun masyarakat yang peduli dan cinta lingkungan.

Mengubah perilaku yang telah tertanam dan terbentuk bertahun-tahun dan telah menjadi suatu kebiasaan seperti layaknya kebiasaan makan 3 kali sehari memang bukanlah pekerjaan yang mudah semudah membalik telapak tangan. Oleh karena banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik faktor intern maupun ekstern. Faktor intern antara lain mencakup pengetahuan masyarakat tentang lingkungan, persepsi, motivasi, dll. Adapun faktor ekstern dapat disebutkan misalnya faktor lingkungan sekitar, baik fisik seperti iklim maupun lingkungan sesama manusia, kebudayaan, tradisi, dll. Untuk itu, diperlukan strategi-strategi atau cara-cara yang tepat untuk merubah kebiasaan tersebut. Strategi-strategi yang ditawarkan berikut ini barangkali dapat dijadikan sebagai sekadar acuan atau pedoman dalam hal yang dimaksud.

Mengacu ke WHO sedikitnya ada 3 strategi yang  dapat  ditempuh  untuk   merubah perilaku masyarakat, yaitu Pertama: dengan menggunakan kekuatan/kekuasaan/dorongan. Dalam hal ini, perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran/masyarakat, misalnya dengan adanya peraturan perundangan yang harus dipatuhi (Perda, dll). Misalnya, bagi masyarakat yang buang sampah sembarangan dikenakan sanksi hukuman penjara sekian bulan/tahun atau denda sekian ribu/juta. Cara ini cukup efektif untuk merubah perilaku, akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena perubahan perilaku yang terjadi tidak didasari oleh kesadaran sendiri (perilaku sesaat/semu).

Cara ini telah banyak dipraktekkan di berbagai Negara (mis: Singapore, Malaysia) maupun kota-kota termasuk kota Bandarlampung di era Adipura masa lalu.  Namun, karena tidak dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen, di lapangan banyak mengalami kegagalan serta tidak berkelanjutan. Perilaku positif yang terbentuk akan berubah kembali sejalan dengan kendornya kontrol pemerintah dan lemahnya penegakan hukum. Walaupun tidak sedikit kota-kota yang telah berhasil dengan resep ini, sebut saja Kota Padang, Pakanbaru, dll, yang terbukti konsisten dapat mempertahankan kualitas lingkungan kotanya, karena di samping karena faktor yang disebutkan, juga didukung oleh tradisi budaya,  adat istiadat, serta ajaran agama yang memerintahkan ke arah pentingnya masalah kebersihan lingkungan tersebut.

Kedua: Pemberian informasi. Dengan memberikan informasi-informasi berupa pengetahuan tentang arti pentingnya kebersihan lingkungan, bagaimana dampak kesehatan dari lingkungan yang kotor, bagaimana mekanisme penularan penyakit, dll, baik melalui jalur formal di sekolah maupun nonformal di masyarakat diharapkan akan menimbulkan kesadaran lingkungan. Walaupun untuk berubahnya perilaku seseorang memerlukan waktu yang lama, dengan cara ini perubahan perilaku akan bersifat langgeng karena dilandasi oleh kesadaran sendiri;

Ketiga: Diskusi dan Partisipasi. Merupakan peningkatan dari cara ke dua hanya bersifat dua arah, masyarakat tidak hanya pasif tapi aktif berpartisipasi malalui diskusi-diskusi tentang informasi yang diterima.

Dari ketiga strategi sebagaimana diuraikan di atas dapat diterapkan secara sendiri-sendiri maupun kombinasi di antaranya ataupun kombinasi ketiganya sekaligus. Hal ini sangat tergantung pada kondisi dan situasi yang dijumpai di masyarakat, tingkat perkembangan masyarakat (sosial, ekonomi, budaya) dan urgensinya. Bagi masyarakat di mana tingkat kesadaran lingkungannya masih rendah dapat memilih strategi pertama misalnya, hanya saja perubahan perilaku yang terjadi tidak ada jaminan akan bersifat langgeng (perilaku semu). Yang lebih baik bila memungkinkan dianjurkan dengan menggunakan kombinasi ketiganya secara bersama-sama. Sebaliknya, bagi masyarakat di mana tingkat kesadaran lingkungannya sudah cukup tinggi, ketiga strategi yang ada sedapat mungkin tetap diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan.

Yang tidak kalah pentingnya barangkali adalah upaya kita menggali dan mengembangkan kembali pengetahuan-pengetahuan tradisional (indigeneous knowledge) dan kearifan lingkungan (environmental wisdom) yang dimiliki oleh hampir sebagian besar masyarakat kita, baik yang bersumber dari adat istiadat/budaya, tradisi, agama/religi, yang mengarah ke upaya pelestarian lingkungan maupun keserasian hidup dengan alam lingkungan seperti halnya yang dimiliki masyarakat Minangkabau umumya dan khususnya masyarakat kota Padang. Kita, sebagai masyarakat Lampung saya kira juga memiliki tradisi dan kearifan lingkungan tersebut. Mengapa kita tidak mengelola dan memanfaatkannya. Pada akhirnya, kunci utama ke arah tercapainya tujuan yang kita inginkan seperti halnya Adipura sangat tergantung pada kesiapan mental dan bagaimana sikap, kesadaran,  serta perilaku kita terhadap lingkungan kota kita!

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: