HUTAN KOTA DAN KUALITAS LINGKUNGAN

Oleh: P. Nasoetion, M.Si.

Staf Pengajar Fakultas Teknik Lingkungan, Universitas Malahayati/

Tim Pemantau Adipura Provinsi Lampung

Beberapa waktu yang lalu Bapak Walikota beserta jajarannya ditambah dengan unsur-unsur masyarakat, LSM, Perguruan Tinggi, maupun unsur Pers termasuk harian ini secara bersama-sama melaksanakan kegiatan bersih-bersih terhadap Hutan Kota yang terletak di kawasan Way Halim, bahkan harian ini melalui Pemimpin Umumnya menyerahkan bantuan kepada masyarakat sejumlah 1000 sapu lidi, belum lagi berbagai pihak lainnya yang menyumbangkan berbagai keperluan untuk kegiatan tersebut. Hal itu tidaklah sesuatu yang aneh dan berlebihan di saat-saat seluruh warga kota  mengidamkan-idamkan terciptanya suatu kota Bandarlampung yang bersih, teduh dan sehat, serta dalam upaya mendukung tekad Pemkot bersama masyarakat dalam meraih penghargaan bergengsi di bidang kebersihan lingkungan kota seperti Adipura.

Seperti diketahui dalam program adipura hutan kota merupakan salah satu komponen/parameter utama yang diamati/dinilai dari suatu kota. Pemilihan parameter ini bukanlah tanpa alasan/pertimbangan yang logis dan ilmiah, yaitu baik didasarkan atas pertimbangan  ekologis/lingkungan, sosial,  ekonomi, estetika, nilai ilmiah, maupun disesuaikan  dengan tujuan Program Adipura itu sendiri yaitu ingin menciptakan kota yang bersih dan hijau/teduh (clean and green city).  Hutan kota  merupakan suatu ekosistem yang mempunyai fungsi mejemuk yang kehadirannya semakin dibutuhkan untuk melindungi penduduk/warga kota dari berbagai masalah lingkungan kota. Hutan kota tersusun dari komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, baik membentuk jalur, menyebar, maupun bergerombol menyerupai hutan alam, serta membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi berbagai satwa, dan dapat memberikan fungsi maupun jasa lingkungan lainnya.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan suatu kota, seringkali keberadaan hutan kota ini semakin terdesak oleh sektor/kegiatan pembangunan lain, bahkan para perencana kota, penentu kebijakan dan pengelola perkotaan, sejak dini sering tidak memperhitungkan atau cenderung  mengabaikan aspek ini, baik  dalam perencanaan suatu kota maupun dalam penyusunan master plan (RUTR) suatu kota. Tidak mengherankan banyak hutan kota serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) lain yang dijumpai diberbagai kota di Indonesia — termasuk kota Bandarlampung tidak terkelola dengan baik, bahkan cenderung dibiarkan sebagai ruang yang hilang (lost space), tidak terpelihara dan tidak dimanfaatkan, sehingga menimbulkan citra negatif pada lingkungan sekitarnya.

Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Pertama: Pengetahuan dan pemahaman kita tentang fungsi dan peranan hutan kota masih sangat minim dan terbatas. Seringkali dalam pemahaman kita, bahwa keberadaan hutan kota termasuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Taman Kota — fungsinya tidak lebih dari sekedar mempercantik kota (fungsi keindahan/estetika); Kedua: Kebanyakan kota-kota yang dibangun di berbagai daerah di Indonesia strukturnya hanya sekedar meniru kota-kota yang sudah ada, bahkan meniru kota-kota yang ada di Barat, tanpa memahami hakikat,  fungsi dan urgensi dari hutan kota itu sendiri; Ketiga: Perencanaan kota yang disusun selama ini cenderung tidak terpadu dan menyeluruh karena lebih menekankan pada perencanaan fisik spatial yang menyangkut tata guna lahan, sistem transportasi dan jaringan infra struktur, sedangkan yang menyangkut aspek fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) yang jelas-jelas untuk kepentingan warga kota kebanyakan — termasuk open space seperti Hutan Kota/RTH/Taman Kota, acapkali kurang disentuh;

Keempat: Dalam implementasinya, pelaksanaan RUTR yang telah disusun “bagus” di atas meja dan disahkan oleh para penentu kebijakan, dalam kenyataannya seringkali dilanggar atau diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan aktivitas komersial yang lebih memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi, seperti pembangunan Mall, Plaza, dll. Di mana dari segi manfaatnya relatif hanya bisa dinikmati oleh segelintir warga masyarakat kelas menengah atas atau berpunya. Pelanggaran terhadap tata ruang di samping akan dapat menimbulkan konflik keruangan, juga dapat menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan lingkungan perkotaan. Kelima: Masih sering terjadi adanya tumpang tindih kewenangan dan tanggungjawab dalam hal yang menyangkut pengelolaan hutan kota antara dinas-dinas/sektor yang ada seperti Kehutanan, Kebersihan dan Keindahan, Pertanian, dll.

Oleh sebab itu tidak mengherankan sejalan dengan pertumbuhan penduduk kota serta kebutuhannya yang meningkat pula — persaingan akan ruang juga semakin meningkat, sehingga konflik pemanfaatan ruang merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari. Sebagai dampaknya banyak hutan kota/RTH/Taman kota, lahan-lahan produktif, ruang publik (public space) serta kawasan lindung seperti bukit-bukit yang dikorbankan. Lihat saja bagaimana bukit-bukit yang ada di sekitar kota Bandarlampung yang notabene merupakan kawasan lindung yang berfungsi sebagai daerah resapan air dan berbagai fungsi lingkungan lainnya, habis dikeruk/digerus dan dikorbankan untuk kepentingan pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan ekonomi  yang sebesar-besarnya, tanpa mengindahkan kelestarian lingkungan. Belum lagi rencana Pemkot untuk menjadikan kawasan Way Halim sebagai pusat perdagangan yang dikhawatirkan akan semakin mengancam keberadaan hutan kota — yang notabene statusnya telah ditetapkan berdasarkan Perda yang kedudukan hukumnya relatif sangat kuat.

Dari hasil pengamatan/pemantauan yang telah dilakukan tim penilai Adipura pada tahap I sekitar bulan September – Oktober yang lalu terhadap hutan kota ini, sangat tampak bahwa ada gejala pengurangan jumlah tegakan/pohon yang sangat drastis yang ditemukan terutama disisi kanan Jalan Raya By Pass Sukarno-Hatta menuju arah ke Bakauheni, yang terlihat dari jarangnya pohon-pohon yang dulunya masih sangat rapat (kerapatan). Hal ini mengindikasikan bahwa hutan ini juga telah menjadi sasaran  penebangan liar (illegal logging) oleh pihak-pihak atau oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Dari informasi yang diperoleh dari masyarakat sekitar diketahui bahwa ternyata banyak masyarakat yang mencuri dan menebang kayu di areal hutan ini untuk dijadikan kayu bakar. Fenomena ini sekaligus mengindikasikan dan mencerminkan bahwa ternyata masih banyak di antara masyarakat perkotaan kita yang hidup dibawah garis kemiskinan yang sangat terbatas kemampuan ekonominya/daya belinya untuk membeli BBM seperti minyak tanah misalnya. Demikian juga gejala yang hampir sama dijumpai di lingkungan Hutan Kota Gunung Sulah maupun di bukit-bukit lainnnya yang terdapat di sekitar Kota Bandarlampung di mana fungsi ekologisnya tidak kalah dengan hutan kota.

Sedikitnya ada 3 fungsi hutan kota bagi kehidupan makhluk hidup termasuk manusia, antara lain:

  1. Fungsi Lansekap, yaitu yang meliputi fungsi fisik dan sosial. Fungsi fisik antara lain vegetasi sebagai unsur struktural memiliki fungsi perlindungan terhadap angin, sinar matahari, bau, kebisingan, pencemaran, dll. Fungsi sosial antara lain yaitu vegetasi dalam hutan kota merupakan tempat yang baik untuk berinteraksi dan bersosialisasi antar sesama warga kota, sebagai sarana pendidikan, penelitian, kesehatan, rekreasi, olah raga, dll. Secara ekonomi hutan kota juga dapat memberikan hasil tambahan untuk kesejahteraan warga kota dengan menghasilkan buah-buahan dan tanaman obat-obatan (apotek hidup)
  2. Fungsi Pelestarian Lingkungan

Fungsi pelestarian lingkungan antara lain: (a) Menyegarkan udara atau sebagai   “Paru-Paru Kota”; (b) Hutan kota dapat menurunkan suhu udara kota dan meningkatkan kelembaban; (c) Sebagai ruang hidup satwa; (d) Penyanggah dan perlindungan terhadap permukaan tanah dari erosi; (e) Pengendalian dan dapat mengurangi polusi udara dan limbah; (f) Hutan kota juga berfungsi sebagai peredam kebisingan (g) Tempat pelestarian plasma nutfah dan bioindikator, serta (h) Menyuburkan tanah.

  1. Fungsi Estetika

Fungsi estetika antara lain adalah sebagai sarana rekreasi, dll.

Mengingat sedemikian kompleksnya fungsi dan peranan yang dapat diberikan hutan kota bagi kehidupan manusia pada khususnya dan dalam meningkatkan kualitas lingkungan kota pada umumnya, tidak mengherankan apabila ruang (space) ini termasuk dalam aspek yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh suatu kota, bukan hanya karena kebetulan termasuk aspek yang dinilai dalam program Adipura, akan tetapi lebih dari itu, mengingat fungsi dan peranannya yang besar seperti telah disinggung di atas. Terlebih di era industrialisasi dan transportasi seperti sekarang ini, di mana tingkat pencemaran udara semakin tinggi yang dapat menimbulkan fenomena “pulau panas” yang terapung di atas media yang lebih dingin yang biasanya dicapai di daerah padat penduduk di pusat kota yang terpanas, sehingga kehadiran dan keberadaan ruang ini dirasakan semakin penting dan urgen. Kehadiran vegetasi dan pohon-pohonan di suatu kota juga sangat berperan dalam mendaurulang gas-gas karbondioksida (CO2) sebagai salah satu unsur utama pencemar udara, serta kemampuan tanaman dalam memproduksi dan mengekspor oksigen ke seluruh kota, sehingga lingkungan kota menjadi segar dan nyaman.

Kehadiran hutan kota dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna, tingkat kerapatan serta strata/tajuknya, akan dapat mempengaruhi iklim mikro/setempat dalam hal melunakkan udara kota, curah hujan, menaikkan kelembaban udara, menurunkan kadar debu serta dapat meredam pencemaran lain seperti kebisingan ditengah-tengah hiruk pikuknya lalu lintas kota, merajalelanya polusi udara,  menjamurnya hutan beton serta kerasnya kehidupan kota. Bahkan di dalam Undang-undang Kehutanan secara eksplisit diisyaratkan pentingnya suatu wilayah/kota mencadangkan minimal 30% wilayahnya tetap dibiarkan sebagai hutan/kawasan lindung. Hal ini tentunya sangatlah beralasan yaitu dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan dan melindungi keseimbangan lingkungan tanah dari erosi, keseimbangan tata air,  maupun  dalam meningkatkan kualitas udara suatu wilayah/kota.

Kedepan, nasib hutan kota seperti Way Halim yang akhir-akhir ini menjadi ajang perebutan antara pihak-pihak yang berkepentingan, nasibnya akan sangat tergantung kepada para penentu kebijakan (Pemkot), apakah pemerintah lebih berpihak kepada lingkungan ataukah lebih mementingkan mengejar keuntungan ekonomi dalam hal misalnya pajak, retribusi, PAD, dll. dengan mengorbankan lingkungan. Mengingat hutan ini merupakan lingkungan buatan (man-made environment), secara ekologis hutan kota ini kurang stabil dibandingkan hutan alami, oleh karena itu masih perlu dilakukan pengayaan (diversifikasi) tanaman/vegetasi dari berbagai jenis, demikian juga kerapatannya serta stratumnya, sehingga  heterogenitasnya tinggi, selanjutnya akan dapat meningkatkan fungsi lingkungan dari hutan kota itu sendiri.

Perhatian khusus juga perlu dicurahkan bagi hutan kota Gunung Sulah di mana akhir-akhir ini kondisinya semakin terdesak oleh pemukiman penduduk kearah bagian hulu (atas) yang lama kelamaan dikhawatirkan akan mempersempit luas hutan yang ada. Bila hal ini tidak segera diantisipasi lewat Peraturan Daerah (Perda) tentang penegasan batas-batas, larangan dan sanksi yang ketat, tidak mustahil suatu saat bukit/hutan yang ada akan menjadi target/sasaran berikutnya bagi usaha-usaha penebangan liar oleh masyarakat sekitar maupun  pengerukan bukit secara liar,  baik oleh pengusaha maupun masyarakat, atau akan berubah fungsi menjadi pemukiman yang tidak terkendali sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang pesat dan perilaku manusia yang lapar lahan.

Seperti diketahui hutan kota Gunung Sulah adalah salah satu hutan/bukit alami (natural environment) di antara beberapa bukit yang terdapat disekitar kota Bandarlampung, sehingga secara ekologis  lebih mantap/stabil baik ditinjau dari keanekaragaman flora dan fauna, jumlah strata maupun dari kerapatannya. Dari berbagai hasil penelitian ilmiah di berbagai kota di dunia tentang bagaimana dan sejauh mana  peranan hutan kota terhadap lingkungan menunjukkan bahwa hutan kota termasuk taman kota, ruang terbuka hijau, taman air mancur, dll. ternyata sangat efektif dalam menanggulangi masalah lingkungan kota (suhu udara, kelembaban, debu dan kebisingan). Dengan demikian bila pengendalian secara ekologis/alami  berupa penanaman pohon-pohon (hutan kota) dapat dilakukan dalam meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan — misalnya dalam  menjernihkan udara kota, kenapa kita tidak belajar dan tidak kembali ke alam (back to nature) dalam mengatasi berbagai permasalahan lingkungan kota kita ditengah-tengah kompleksnya berbagai masalah lingkungan yang muncul dewasa ini. Oleh karena itu tidak ada cara atau pilihan yang lebih tepat selain mari secara bersama-sama kita lestarikan hutan kota kita kalau kita ingin menjadikan kota kita sebagai kota yang Ecopolis!

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: