“NASIB LAUT KITA”

(Dalam Rangka Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2006)

Oleh: P. Nasoetion, M.Si.

Staf Pengajar Fakultas Teknik Lingkungan

Universitas Malahayati & Tim Pemantau dan Penilai Adipura Provinsi Lampung

Sewaktu kita duduk dibangku sekolah, guru Geografi mengajarkan kita bahwa negara kita adalah negara kepulauan yang terdiri dari beribu ribu pulau, baik pulau kecil maupun besar, yang dikepung oleh dua benua dan dua samudera, serta memiliki laut paling luas dan garis pantai yang terpanjang di dunia. Kita juga tahu bahwa negara kita 70% terdiri dari lautan. Oleh karena itu, negara kita disebut negara maritim.

Dilain waktu guru kesenian sering mengajak kita menyanyikan lagu nenek moyangku orang pelaut. Memanglah nenek moyang kita dahulu datang dari negeri jauh menempuh ombak dan badai, dihantam karang tajam sebelum akhirnya sampai dan beranak pinak di Indonesia. Kita juga masih ingat bagaimana keberanian pelaut-pelaut Bugis menembus badai atau Kerajaan Sriwijaya pernah menguasai perdagangan laut, yang semakin memperkukuh bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut. Bahkan sejarah kejayaan bangsa kita di laut jelas tergambar dari slogan TNI Angkatan Laut kita ”Jalesveva Jayamahe” Di Laut Kita Jaya.

Adalah suatu anugerah Tuhan yang besar bagi bangsa Indonesia bahwa negara kita dikaruniai laut yang luas disertai dengan potensi sumberdaya laut kita yang sangat besar dan kaya, baik sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable) seperti barang tambang, minyak dan gas bumi,  cebakan logam dan mineral, energi ombak yang terus menerus tersedia setiap saat, maupun sumberdaya hayati yang dapat diperbaharui (renewable) seperti ikan, udang, kepiting, tanaman laut. Belum lagi sumberdaya lain seperti sumber bahan bangunan seperti pasir, gravel, gelas; sumber mineral seperti manganese, cobalts, lumpur mineral, dll. Laut juga berfungsi memberikan jasa-jasa lingkungan lainnya seperti sarana transportasi, rekreasi, wisata laut (ecotourism), kesehatan, dll. Dirjen Perikanan memperkirakan potensi perikanan dan kelautan Indonesia adalah berkisar antara 4–20 juta ton/tahun. Adapun nilai potensi sumberdaya Kelautan dan Perikanan (KP) mencapai 72 milyar dollar (720 trilyun).

Dari gambaran dan fakta-fakta di atas menunjukkan kepada kita sekaligus mengingatkan dan menyadarkan kita kembali betapa besarnya potensi sumberdaya dan kekayaan laut kita yang selama ini mungkin terlupakan, yang bila kita kelola dan manfaatkan secara optimal dan bijaksana serta berwawasan lingkungan akan dapat menyejahterakan dan memakmurkan bangsa kita, khususnya masyarakat nelayan kita yang kehidupannya selalu dililit dan dihimpit kemiskinan dan kemelaratan.

Yang menjadi pertanyaan apakah selama ini kita sudah mengenal laut kita? Sejauhmana pemahaman dan pengetahuan kita tentang laut kita? Kenapa kita semakin asing dengan laut kita? Luasnya, kedalamannya, potensinya, terumbu karangnya, mangrovenya, fungsi dan peranannya bagi kita, dll. Semua ini akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita dalam memperlakukan dan mengelola laut kita.

Seperti kita saksikan bersama dewasa ini Ekosistem laut laut kita telah banyak mengalami kerusakan-kerusakan dan pencemaran terutama akibat ulah aktivitas manusia, seperti pembangunan di daerah pesisir yang mengabaikan kelestarian lingkungan, reklamasi pantai,  perubahan tata guna lahan, penangkapan ikan secara berlebih (over fishing/over exploitation) dengan menggunakan trawl/pukat harimau, bom, racun sianida, pencemaran oleh limbah industri, limbah rumah tangga, pembukaan tambak, pengerukan pasir di laut, tumpahan minyak di laut, dan lain-lain, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan mangrove/bakau yang secara ekologis merupakan habitat alami bagi pemijahan dan pengasuhan (nursery ground) dari berbagai jenis biota laut seperti udang, kepiting, dll, serta kerusakan  terumbu karang sebagai habitat alami berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.

Fenomena ini bila tidak dikendalikan secara ketat melalui peraturan produk hukum dan pengawasan yang ketat, bukan saja akan dapat menurunkan kualitas lingkungan laut dalam arti luas, bahkan kehancuran ekosistem laut, juga akan mengakibatkan terjadinya penyusutan sumberdaya laut seperti menurunnya secara drastis populasi dari berbagai jenis ikan, di mana kemudian akan berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan, yang pada gilirannya akan dapat menurunkan tingkat pendapatannya. Hal ini akan mengakibatkan nasib masyarakat nelayan semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Disatu sisi potensi laut kita sering dikatakan belum tergarap atau tergali serta terkelola secara optimal, namun disisi lain tidak sedikit lingkungan laut kita telah mengalami kerusakan-kerusakan akibat pencemaran baik yang bersumber dari laut itu sendiri, terlebih yang bersumber dari daratan seperti industri, pabrik, pertanian, peternakan, pemukiman, dan daerah komersial pertokoan (Non Point Sources Pollution).

Sebagai contoh, Teluk Lampung setiap saat harus menerima beban buangan berat yang berasal dari daratan baik berupa limbah cair maupun padat, berupa sampah organik maupun anorganik, terlebih yang mengandung zat-zat beracun yang bersifat toksik yang diangkut melalui sedikitnya 19 sungai (DAS) yang mengalir melintasi daerah permukiman dan perkotaan Bandarlampung. Beban ini semakin berat manakala datangnya musim penghujan, di mana volume dan debit air sungai meningkat, sehingga semua bahan material berupa sampah dan benda-benda lain akan diangkut dan dihanyutkan ke muara sungai (Teluk Lampung).

Kondisi yang ada semakin diperparah oleh sikap dan perilaku masyarakat khususnya yang bermukim di sekitar pesisir/pantai dan daerah aliran sungai (DAS) di mana tingkat pengetahuan dan kesadaran tentang lingkungannya masih sangat  rendah serta menganggap sungai dan laut sebagai keranjang sampah. Di samping itu, kondisi Topografi kota Bandarlampung yang umumnya miring sampai terjal turut mendukung ke arah gejala yang ada. Tidak mengherankan bila hampir disepanjang pantai Teluk Lampung pemandangan yang kita temukan di sana sini adalah tumpukan sampah dan sampah yang berserakan, khususnya sampah anorganik berupa plastik.

Di samping itu, dari beberapa hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kondisi Terumbu Karang di daerah Teluk Lampung dan sekitarnya telah banyak mengalami kerusakan yang cukup parah. Hal ini tidak terlepas dari cara kita memperlakukan laut yang tidak ramah lingkungan dan tingginya beban pencemaran yang diterima perairan tersebut.  Padahal seperti kata para pakar kelautan,  perairan Teluk Lampung dan sekitarnya yang panjangnya mencapai 1200 km memiliki potensi perikanan yang termasuk terbesar di Indonesia.

Bila kita kembali ke pertanyaan yang dilontarkan di atas, kita akan menemukan jawaban apa yang tepat dalam mengatasi berbagai permasalahan sehubungan dengan kerusakan dan pencemaran laut kita. Menurut hemat penulis kunci utamanya adalah terletak pada pengetahuan, persepsi, sikap dan perilaku masyarakat  dalam memandang dan memaknai laut itu sendiri. Selama ini kita menganggap bahwa fungsi laut tidak lebih dari sekedar  ”Keranjang Sampah Raksasa” yang harus terus menerus dibebani dan dijejali oleh bahan buangan kita yang tidak akan pernah penuh, sehingga kita terus menerus membebani sungai dan laut kita dengan bahan buangan kita. Walaupun ekosistem alami seperti sungai dan laut memiliki kemampuan memulihkan diri (Homeostatis), namun bila batas itu terlampaui sungai/laut itu akan mengalami kerusakan, terlebih bila bahan buangan itu mengandung zat-zat beracun/toksik akan sulit dipulihkan.

Persepsi yang keliru dari masyarakat kita dalam memandang dan memaknai laut juga tampak jelas dari cara kita membangun/menata letak dan posisi pemukiman/rumah penduduk/nelayan yang terdapat di sepanjang pantai yang selalu membelakangi laut dan menghadap ke jalan.   Dengan letak/posisi yang demikian dapur dan kamar mandi/WC otomatis harus ditempatkan dibelakang, selanjutnya bisa dibayangkan kemana limbah dibuang. Lagi-lagi laut menjadi korban perilaku manusia. Dari fenomena sederhana itu saja kita bisa menyimpulkan bahwa kita memang kurang peduli dan kurang mencintai laut kita

Pemandangan seperti ini sangat kontras sekali dengan yang kita temukan di negara maju seperti Amerika dan Eropa. Kecintaan dan tingginya penghargaan masyarakat negara maju dalam memandang dan mempersepsi laut dapat dilihat dari bentuk dan posisi rumah yang selalu menghadap laut dan membelakangi jalan raya. Memanglah bagi masyarakat negara maju laut bukan saja dianggap sebagai sumberdaya yang sangat potensial dan banyak menyimpan kekayaan terpendam yang melebihi kekayaan ekosistem daratan, namun juga laut dipandang sebagai ”Periuk Nasi Masa Depan” disaat Ekosistem Daratan telah mengalami kehancuran seperti kita temukan sekarang ini.

Oleh karena itu, bila kita ingin mempertahankan kelestarian Sumberdaya laut kita, tidak ada pilihan lain kecuali kita harus memberikan pemahaman, pengetahuan kepada masyarakat kita dalam merubah persepsi, sikap  dan  perilaku masyarakat dalam memaknai apa peranan dan fungsi laut itu sendiri bagi kelangsungan kehidupan manusia. Oleh karena itu kita perlu mengenali laut kita secara mendalam termasuk potensi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Kata istilah ”Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Istilah ini sungguh tepat dalam upaya kita dalam merubah persepsi, perilaku dan membangkitkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan laut di saat negara lain mulai berpaling dari Pemanfaatan Ekosistem Daratan (Revolusi Hijau) menuju Pemanfaatan Ekosistem Laut (Revolusi Biru).  Itu bila kita tetap ingin mengaku sebagai bangsa pelaut!

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: